SEJARAH KELOMPOK PELAYANAN KASIH DARI IBU YANG BAHAGIA

VI. MGR. ISAK DOERA (USKUP EMERITUS) BERSAMA
KELOMPOK PELAYANAN KASIH DARI IBU YANG BAHAGIA


Tentang peran Bunda Maria yang membawa keselamatan Konsili Vatikan II berkata: "Sesudah diangkat ke surga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus menerus memperolehkan bagi kita karunia karunia yang menghantar kepada keselamatan yang kekal" (LG n. 62). Salah satu dari aneka perantaraannya itu bagi kita di Indonesia ini adalah "Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia". Tetapi seperti dulu dalam Gereja Perdana di Yerusalem Bunda Maria bekerja bersama para Rasul, begitupun sekarang dalam Gereja masa kini di Indonesia dig ingin bekerja sama dengan para Imam. Untuk itu sejak awal dia minta Ibu Agnes menghubungi Pastor setempat pada tanggal 10 April 1995. Pastor memenuhi permintaan itu dan datang memberkati tempat untuk berdoa. Tetapi tidak lama kemudian Pastor itu pindah. Para Pastor berikutnya bersikap menolak.

Tetapi Bunda Maria tidak berdiam diri. Dia mendekati Putranya Yesus dan meminta seorang Gembala khusus untuk mendampingi Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia. Yesus memenuhi permintaan itu dan berjanji akan mengirim seorang gembala dari jauh. Bagaimana, jalannya, ikutilah cerita di bawah ini.

Manusia merencanakan, tapi Tuhan menentukan

Hal ini telah berlaku pula pada diri saya berkaitan dengan Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia. Menurut rencana saya akan menjalani masa emeritat saya sebagai Pastor di sebuah paroki kecil di Keuskupan Sintang. Tetapi Tuhan menentukan lain. Lewat Nunsius Apostolik Pietro Sambi saya diperintahkan pergi ke Jakarta dengan janji mendapat sebuah tugas.

Saya ke Jakarta tanpa pernah mendengar tentang Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang bahagia, apalagi tentang Agnes Sawarno. Saya baru tahu tentang Kelompok ini pada pertengahan Februari 1997 dari seorang anggota Kelompok yang saya baptis di sungai Yordan pada saat kami ziarah ke Tanah Suci. Waktu itu dia banyak bercerita tentang Kelompok ini. Melalui dia saya bertemu dengan Ibu Agnes c.s. pada tanggal 30 April 1997 di Sunter, Jakarta. Hasil dari pertemuan itu saya boleh ikut Doa Pasrah tanggal 3 Mei 1997 di Cimahi. Pada waktu itu saya mendapat sapaan sbb: "AnakKu, engkau imamKu yang setia. Laksanakan terus tugasmu, jangan takut, Aku menyertaimu".

Setelah mengikuti lagi Doa Pasrah di bulan Juni, Agustus dan September 1997, saya menyimpulkan Suara itu menghendaki saya menjadi pendamping rohani Ibu Agnes dan Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia. Malahan pada bulan Agustus 1997 Bunda Maria mulai menyebut nama saya ketika menyampaikan pesan pesannya di Kapel Sekolah Budaya di Buaran, Jakarta Timur. Mendengar itu banyak orang heran, karena sebelumnya belum pernah Bunda Maria menyapa orang dengan menyebut namanya. Tetapi dasar rohaniwan, saya belum yakin betul tentang tugas sebagai pendamping rohani itu.

Kemudian Ibu Agnes c.s. mengingat kembali akan janji Yesus pada tanggal 7 November 1995 bahwa Ia akan mengirim seorang Gembala dari jauh. Mereka datang kepada saya dengan membawa buku pesan pesan Tuhan Yesus dari tahun 1995 1996. Mereka menunjuk pesan Tuhan Yesus dari tanggal 7 November 1995 yang bunyinya sbb:

"Agnes, anak Ku yang Kukasihi, Aku tahu bahwa sangat berat penderitaanmu, tetapi percayalah kau di pihak yang benar. Suatu saat dan tidak lama lagi kau akan ditolong tentang kebenaran ini, kau akan dilindung gembalaKu yang percaya tentang Aku. Percayalah, gembala itu akan Kukirim dari jauh untuk menolongmu. Dia adalah seorang bijaksana untuk menanggapi semua yang datang dari Aku. Agnes, kau jangan sedih sebab kebenaran ini, Aku diterima di negaramu ini dan beberapa gembala itu yang melihat dia akan Kujadikan saksi tentang kedatanganKu melalui kau, Agnes, dan mereka akan bekerjasama denganmu untuk menyampaikan apa yang dibawakan Ibu Surga kepada anak anaknya, agar kedatangan Ibumu itu dapat diterima di mana mana".

Karena tertarik saya baca terus dan pada tanggal 12 Januari 1996 saya temukan Yesus mengulangi janjiNya dengan kata berikut ini: "Agnes, Aku mengatakan kepadamu, bahwa gembalaKu akan Kukirim ke sini untuk membantu menyampaikan kebenaran ini yang datang dari Aku".

Lalu pada tanggal 7 Februari 1996 saya temukan sekali lagi kata kata Tuhan Yesus berkaitan dengan gembala yang dijanjikanNya: "Aku telah memanggil gembalaKu untuk menerima kebenaran yang datang dari Aku. Tidak ada yang menghalangiKu, karena Aku adalah yang mempunyai semuanya itu,,.

Yang mencolok adalah ketiga tanggal itu, karena ketiga tiganya jatuh bersamaan dengan peristiwa peristiwa yang saya alami sesaat sebelum dan sesudah serah terima pimpinan Keuskupan Sintang dengan pengganti saya. Tanggal 7 November 1995 saya membicarakan serah terima pimpinan Keuskupan Sintang dengan Mgr. Pietro Sambi, Dutabesar Vatikan yang akan berlangsung pada awal tahun 1996 sesuai dengan permintaan saya setahun sebelumnya. Tanggal 12 Januari 1996 kami di Sintang telah menyelesaikan persiapan segala sesuatu yang berkaitan dengan serah terima, tinggal pelaksanaannya yang akan berlangsung pada tanggal 19 Januari 1996. Dan terakhir tanggal 7 Februari 19969 saat saya meninggalkan Pontianak menuju Jakarta.

Juga mencolok adalah pemakaian kata kata "mengirim" dan "memanggil". Pada tanggal 7 November 1995 dan 12 Januari 1996 Tuhan Yesus berkata “akan mengirim", karena pada waktu itu gembala yang bersangkutan masih melaksanakan tugas pimpinan Keuskupan Sintang. Pada tanggal 7 Februari 1996 Tuhan Yesus berkata "Telah memanggil" gembalaNya itu, sebab waktu itu gembala itu sudah meletakkan tugasnya. Kini Yesus memanggilnya untuk diberi tugas baru.

Tetapi kalau saya ditanya, apakah pasti diri saya yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam ketiga pesanNya itu, saya tidak berani menjawab “ya”, karena saya kira bisa jadi seorang gembala lain yang dimaksudkan. Saya baru yakin sepenuhnya tentang itu pada tanggal 7 Januari 1998, hari pertama Novena putaran pertama tahun 1998. Waktu itu Tuhan Yesus menyapa saya sbb: "AnakKu, engkau imamKu yang setia. Keberadaanmu dalam Kelompok ini adalah atas permintaan Ibumu kepadaKu".

Dan Bunda Maria pada gilirannva menyapa saya sbb : "Baiklah aku berkata kepadamu anakku yang aku kasihi, Isak Doera, engkau telah dipanggil dari jauh oleh Allahmu. Dari jauh engkau sampai di sini bersama anak anakku itu adalah permohonanku. Secara dunia biar manusia melihat. Sebenarnya tanpa seorangpun ini akan menjadi baik, tetapi aku minta lebih baik. Kuminta dari Allah, berikanlah aku seorang imam untuk mendampingi anak anakku di negara ini. Biar menjadi nyatalah kehadiranku yang aku mintakan dariMu, agar aku bisa bertemu dengan putra putriku di sini.,'

"Bekerjalah engkau dengan baik anakku, dan lakukanlah permintaanku ini, agar tempat itu sungguh sungguh menjadi tempat yang sangat bahagia (Tempat Doa Hati Ibu Yang Bahagia di Danan, Giriwoyo, Wonogiri). Aku sangat bahagia apabila anak anakku datang berdoa memuliakan Allah dan berdoa menghormati aku, Ibunya, karena akulah Ibumu. Itulah tugasmu anakku Isak Doera. Engkau seorang Imam yang baik, yang bijaksana, yang mau membuka kasih Allah yang telah datang ke sini. Maka Allah berkenan memanggilmu dan membawamu ke sini untuk membimbing anak anakku semua di negara ini".

Saya sungguh tersentuh dan bertanya kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, apanya yang istimewa pada diri saya, sehingga mendapat kehormatan yang luar biasa dipilih untuk tugas itu. Mulai saat itu saya yakin sepenuhnya bahwa Penyelenggaraan Ilahi lah yang mengantar saya kepada Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia; bahwa gembala yang dijanjikan Tuhan Yesus sampai tiga kali kepada Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia adalah diri saya; bahwa niat saya untuk menjadi pastor paroki di Keuskupan Sintang dibatalkan oleh Tuhan Yesus dengan memakai mulut Nunsius Pietro Sambi yang memerintahkan saya datang ke Jakarta dengan janji akan memberikan suatu tugas kepada saya.

Mulai saat itu tak ada satu orangpun yang dapat mempengaruhi saya untuk meninggalkan Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia. Sudah beberapa kali saya dihina. dan ditolak, tapi itu tidak bisa mendorong saya untuk meninggalkan Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia, karena Tuhan Yesus yang sudah lebih dahulu ditolak dan dihina, menguatkan saya dengan penyertaanNya.

Inilah secara singkat mengapa saya kini berada di dalam Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia dan bekerjasama dengannya melayani anak anak Bunda Maria di negara kita Indonesia.